Memahami arti Hidup

Pernahkah kita berpikir, untuk apa kita dilahirkan di dunia ini?
Pernahkah kita berpikir, untuk apa kita hidup?
Memang sulit jika kita memaknai atau memahami arti hidup sebenarnya.
Secara biologis, hidup dapat diartikan sebagai sesuatu yang dianggap ada, nyata, bergerak, dan dapat berkembang biak.
Tetapi apakah kita tahu secara harfiah apakah hidup itu?

Orang bilang : Hidup adalah perjuangan.
Definisi perjuangan itu sendiri jika kita kaji lebih dalam sangatlah abstrak.
Perjuangan yang berasal dari kata “juang” yang artinya “usaha” belum cukup untuk menjelaskan arti hidup itu sebenarnya.
Jadi, pernyataan bahwa Hidup adalah perjuangan kurang tepat.

Orang bilang : Hidup itu indah.
Definisi indah lagi-lagi kurang tepat untuk mendefinisikan arti hidup sebenarnya.
Tidak semua orang memiliki hidup yang indah, sebagian besar merasa hidupnya tidak indah.
Jadi, pernyataan bahwa Hidup itu indah kurang tepat.

Lantas ?.. Arti hidup itu apa ?….
Jawabannya hanya ada di lubuk hati kita semua.
Pertanyaan tersebut dapat dijawab sesuai arah dan tujuan untuk apa kita hidup.

Akhirnya, kita sendiri-lah yang harus menentukan arah tersebut bagaimanapun caranya agar hidup kita dapat bermakna.
Oleh karena itu, arti hidup bagi setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda-beda.
Kalau menurut pandangan saya, hidup adalah bagaimana cara kita memahami diri sendiri dan memahami orang lain sehingga terjalin suatu interaksi yang menghasilkan suatu perasaan yang disebut emosi. Emosi inilah yang nantinya akan menggerakkan kita semua.
Keadaan emosi harus selalu diimbangi dengan pikiran.
Orang yang terlalu banyak berpikir tanpa emosi, hasilnya nihil. Karena ia hanya berpikir secara terus-menerus walaupun sebenarnya ia tahu apa yang harus ia lakukan. Tapi karena emosinya tidak berjalan, maka tidak ada yang menggerakan dirinya.
Orang yang emosi tanpa berpikir, hasilnya juga nihil. Karena ia meluapkan begitu saja emosi yang ia punya tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi jika emosinya sewaktu-waktu dapat membahayakan dirinya sendiri bahkan orang lain sekalipun.
Berbeda dengan orang yang mengandalkan keduanya dengan seimbang. Balance. Ia mampu berpikir dan bergerak secara sinkron sehingga tujuan hidupnya dapat tercapai serta memaknai arti hidupnya sendiri.

Jadi, mulai dari sekarang :
– Tentukan tujuan dan arah hidupmu!
– Seimbangkan antara kemampuan berpikir kamu dengan keadaan emosi kamu!
– Maknai hidupmu agar lebih bermakna!

Sukeng tyas yen den hita ( bersedia menerima nasihat, kritik, tegoran )

Posted on 26 Oktober 2011, in Anak kampung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: