TAHTA UNTUK RAKYAT

 

 

Beberapa hari ini saya mengkuti perkembangan dunia politik Indonesia yang semakin menarik :
– Presiden mengunjungi pengungsi gunung Kelud (tapi tendanya full AC).
– Juga beberapa saat lalu presiden mengunjungi pengungsi lumpur lapindo (tapi pengawalannya hueleeh huelehh).

Saya hanya membayangkan klo Indonesia punya pemimpin yang merakyat dan memperhatikan rakyat pasti tidak seperti sekarang ini nasibnya. Buku autobiography Sri Sultan HB IX – Tahta Untuk Rakyat.Jika kita baca buku tersebut, terlihat bagaimana hebatnya sorang raja yg memperhatikan rakyatnya. Buku ini juga memuat tulisan Rahmi Hatta (Istri M. Hatta-wapres I), M. Roem (Diplomat Indonesia pada masa2 awal kemerdekaan), TB Silalahi, Frans Seda, Rosihan Anwar (Legenda Hidup Pers Indonesia), SK Trimurti (Istri sayuti Melik-penulis naskah proklamasi dan mantan menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin).

Beberapa bagian buku menggambarkan Sultan HB IX itu pemimpin yg merakyat

– Menyelamatkan Rakyat dari Romusha
Pada saat penjajahan Jepang, Sultan HB IX memerintahkan pembangunan selokan Mataram sepanjang kurang lebih 50 km untuk menghindarkan rakyatnya dari Romusha.
– Menggaji Kabinet Presiden Soekarno
Pada saat Ibukota Negara berada di Yogyakarta, semua Kabinet termasuk Presiden (Soekarno) dan Wapres (Hatta) digaji oleh Sultan (memoar Ny. Rahmi Hatta)

– Tidak terpengaruh iming2 kekuasaan dan Harta
Pada saat Agresi Militer Belanda di Yogyakarta, Sultan berunding dengan Belanda diwakili adiknya Pangeran Bintoro (kemudian menjadi Anggota BPUPKI) dan pada perundingan tersebut Sultan diminta tidak ikut campur masalah Republik Indonesia dan Belanda (untuk menjadi ibukota) dan sebagai imbalannya diberikanlah kekuasaan atas tanah bekas Kraton Mataram meliputi Kedu, Solo, Madiun, Kediri, Banyumas.
Pada perundingan pertama gagal, akhirnya pada perundingan ke-2 ditambahkanlah imba;an kekuasaan meliputi Jawa tengah, Jawa Timur dan Madura. Untuk inipun Sultan tidak mau menerimanya.
Akibatnya kota Yogyakarta diserbu dan Kraton dikepung. Panglima Belanda untuk Wilayah Jawa, Jenderal Spoor, mendatangi gerbang keraton dengan 3 panser untuk memaksa masuk dan HB IX menyambutnya di gerbang Alun2 Kraton Utara dan berkata,”Anda dapat memasuki Kraton tapi harus melangkahi mayat saya”.
Belanda pun mundur dari Kraton tetapi tetap mengurung Kraton. Karena tidak bisa keluar, HB IX memerintahkan abdi dalem keraton Selo Soemardjan (Prof. Dr. Selo Soemardjan pendiri Fisip UI)
untuk menghubungi Panglima Soedirman dan Soeharto untuk merencanakan serangan (yang kemudian dikenal dengan “Serangan Oemoem 11 Maret”

– Merakyat
Persoalannya, adakah pemimpin sekarang yang sudi turun ke jalan, berempati dengan rakyat yang tertindas, bertekad bulat mengentaskan mereka dari keterpurukan? Dalam bunga rampai Tahta untuk Rakyat,ada cerita menyentuh tentang Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang dituturkan oleh S.K. Trimurti (wartawan senior yang melihat kejadian pinsannya seorang pedagang gara2 HB IX). Ceritanya : Seorang bakul beras dari daerah Kaliurang menghentikan jip yang tengah meluncur ke selatan. Untuk pulang-pergi berjualan di Pasar Kranggan, Yogyakarta, ia memang biasa menumpang kendaraan yang lewat. Begitu jip berhenti, ia menyuruh sopir menaikkan karung-karung berasnya. Sesampainya di pasar, sopir pun menurunkan karung-karung itu.

Namun, ketika simbok bakul hendak memberikan uang ongkos menumpang, dengan sopan sopir itu menolak. Bakul ini marah-marah, mengira si sopir menuntut bayaran lebih. Akhirnya, tanpa berkata apa-apa, sopir itu menjalankan jipnya dan terus melaju ke selatan.
Seorang polisi mendekati simbok yang marah-marah itu, bertanya, “Apakah mbakyu tahu, siapa sopir tadi?”
“Sopir ya sopir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang sopir yang satu ini agak aneh,” jawabnya mengomel.
Polisi itu lalu menjelaskan, “Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Sopir tadi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, raja di Ngayogyakarta ini.” Seketika itu juga simbok bakul itu jatuh pingsan.

Kisah-Kisah di atas menggugah untuk direnungkan. Rakyat menantikan pemimpin yang punya hati dan kepedulian, bukan yang serba sibuk membangun partai sendiri, namun alpa pada amanat rakyat yang konon diwakilinya. Pemimpin yang sudi turun ke jalan, belusukan menengok kondisi kehidupan kaum papa. Wakil rakyat yang memberi tumpangan, bukan malah menumpangi rakyat. Pemimpin yang rela berkorban dan mengajarkan kebajikan melalui teladan.

Posted on 13 Desember 2010, in Anak kampung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: