Antara Cinta dan Bencana

Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, hari Selasa sore 8 Sya’ban tahun 545 H di Madrasahnya. Rasulullah saw, bersabda: “Siapa yang tampil elok di hadapan manusia karena agar dapat dukungan kesenangan mereka, dan melawan Allah melalui pelanggaran yang dibenci-Nya, maka ia bertemu Allah Azza wa-Jalla dalam kondisi Allah murka padanya.”

Wahai dengarkan kalam Kenabian ini, hai orang-orang munafiq! Hai orang yang menjual akhirat dengan dunianya. Wahai yang menjual Allah Azza wa-Jalla dengan kepentingan makhluk! Wahai penjual hal-hal yang abadi dengan hal-hal yang fana’, pasti bangkrutlah daganganmu dan habislah modalmu.

Celaka kalian ini. Kalian menampilkan diri untuk suatu murka Allah Azza wa-Jalla, karena siapa pun yang berias untuk manusia yang bukan tempatnya, Allah Azza wa-Jalla bakal memurkainya. Riasilah fisik anda dengan adab syari’ah, dan riasilah batin anda dengan mengeluarkan makhluk dari dalam batin anda. Tutuplah pintu-pintu mereka, kefanaan mereka dari hatimu sampai seakan-akan mereka tidak pernah diciptakan sama sekali, hingga anda tak pernah memandang adanya ancaman dan manfaat dari mereka. Anda telah menghiasi lahiriah anda, dan meninggalkan hiasan hati anda.

Padahal hiasan hati itu dengan tauhid, ikhlas, berpegang teguh percaya pada Allah Azza wa-Jalla, berdzikir kepadaNya dan melupakan selainNya.
Nabi Isa as, bersabda, “Amal saleh itu adalah amal yang tidak membebaninya.”

Wahai orang gila, akalmu tidak nyambung dengan urusan akhirat dan dunia, karena itu tidak ada gunanya bagimu. Berjuanglah untuk meraih iman, maka anda pasti mendapatkannya. Bertobatlah, dan evaluasilah kesalahanmu, menyesallah dan, dan alirkan airmatamu yang membelah pipimu. Karena menangis oleh rasa takut kepada Allah swt itu bisa meredupkan neraka maksiat, mematikan api amarah Allah Azza wa-Jalla. Bila hatimu taubat, maka cahaya taubat yang benar akan mencerahi wajahmu.

Anak-anak sekalian… Tekunlah dalam menjaga rahasia batinmu semaksimal mungkin, kecuali anda tidak mampu, maka anda termaafkan. Cinta itu bisa merobohkan dinding dan tirai, tirai rasa malu, keadaan, dan pandangan makhluk. Orang yang tak berdaya ia diperintahkan untuk mengeluarkannya, dan orang yang mukallaf (mendapatkan tugas kewajiban) tetapi ia terkalahkan oleh ketakberdayaannya, berarti ia telah menggunakan celak mata dengan debu di kakinya. Sebab ada hal-hal yang mesti dipilah, mana yang sifatnya nafsu, mana yang sifatnya qalbu, dan mana yang kepentingan makhluk, dan mana yang sifatnya Rabbani.

Berjuanglah agar dirimu bukan dirimu, tetapi agar segalanya Dia. Berjuanglah agar anda tidak bergerak dalam menolak bencana dari dirimu dan tidak menarik manfaat kepadamu. Sebab jika anda mampu demikian, malah Allah Azza wa-Jallan menempatkan makhluk yang membantumu dan menyelamatkan dirimu dari bahaya itu. Jadilah dirimu di hadapan Allah Azza wa-Jalla seperti mayat yang ada di tangan orang yang memandikannya, seperti ahli gua Kahfi di tangan Jibril as.

Jadilah dirimu bersama Allah Azza wa-Jalla tanpa wujud dan tanpa ikhtiar serta ta secara total tanpa mengaturNya. Kokohkan pijakan imanmu dan jiwamu di hadapanNya, ketika takdirNya yang berat turun kepadamu.

Sebab, iman itu bisa diukur dengan kekokohannya menghadapi takdirNya, sedangkan kemunafikan selalu lari dari ketentuan takdirNya. Orang munafiq ketika malam tiba dan siang berlalu senantiasa lari menuju rumahnya mencari jalan aman, menggemukkan kenikmatan hawa nafsunya dan nalurinya, sementara kedua mata hatinya dan rahasia batinnya buta.

Pintu rumahnya kelihatan ramai, sedangkan isi rumahnya sudah roboh. Dzikir hanya sebatas lisan, hatinya kosong. Marahnya hanya untuk dirinya bukan demi Tuhannya Azza wa-Jalla. Sedangkan orang beriman kebalikannya. Dzikirnya hanya bagi Allah Aza wa-Jalla, baik lisan maupun hatinya, bahkan dalam banyak waktu qalbunya berdzikir, lisannya diam. Marahnya, benar-benar matrah karena Allah Azza wa-Jalla, bukan demi kepentingan nafsunya, hawa nafsu dan nalurinya, serta bukan demi dunia. Ia tidak dengki dan tidak kontra karena iri kepada yang meraih materi bagiannya.

Anak-anak sekalian… Jangan sampai anda dengki kepada hal-hal yang bukan bagianmu, karena Allahlah yang memberi dan mengambil, sedangkan anda malah hancur, hina dan terhinakan. Apakah bagian dari Allah itu bisa berkurang katrena iri dengkimu? Padahal ilmunya Allah pada takdir orang itu sudah lebih dahulu ada? Jika engkau menentang Tuhanmu Azza wa-Jalla atas takdirNya yang sudah ditentukan padamu dan orang lain, anda telah gugur di hadapanNya dan ilmu anda tidak berguna, sebagaimana firmanNya: “Dan bekerja lagi kepayahan…” (QS. Al-Ghosiyah: 3)

Taubatlah sekarang kepada Allah Azza wa-Jalla. Orang yang yang terlindungi, pasti hatinya cerdas. Janganlah berhenti kembali kepada Allah gara-gara turunnya bencana kepadamu. Tunggulah jalan keluar yang diberikan kepadamu dariNya. Jangan sampai anda putus asa, karena setiap saat ada jalan keluar. “Setiap hari Dia dalam urusanNya” (QS. Ar-Rahmaan: 29), dari satu bangsa ke bangsa lain, maka sabarlah bersamaNya dan relalah dengan takdirNya.

“Engkau tidak tahu, barangkali setelah itu Allah memberikan anugerah baru.” (QS. At-Thalaaq: 1)
Jika engkau sabar Allah Azza wa-Jalla meringankan ujian darimu, dan memberikan anugerah perkara baru yang dicintaiNya dan engkau mencintainya. Namun jika anda menentang dan kontra, akan bertambah berat beban deritamu, bertambah gara-gara kontramu kepadaNya, sebab gara-gara kontramu itulah anda malah berteguh dengan dirimu dan hawa nafsumu, serta motivasi duniawimu dan ambisi-ambisimu.

Wahai kaum Sufi… Jika saja memang harus begitu, bolehlah nafsumu di pintu dunia, sedangkan hatimu harus tetap di pintu akhirat, sedangkan rahasia hatimu (sirr) ada di pintu Tuhan, sampai nafsumu berbalik pada hatimu, dan merasakannya, sedangkan hatimu berbalik pada sirrmu, hingga merasakan nya pula, serta sirrmu berbalik menjadi fana’ di dalamnya yang tidak merasakan apa-apa, kemudian ia dihidupkan hanya bagiNya bukan selainNya. Maka saat itulah rasanya satu dirham beribu kali lipat menjadi emas, karena kembali dalam keabadian primordial yang hakiki.

Sungguh berbahagialah orang yang mengenal apa yang saya katakana ini dan percaya. Berbahagialah orang yang mengamalkannya dan ikhlas dalam beramal. Dan berbahagialah orang yang meraih amalnya itu lalu mendekatkannya kepada Allah Ta’ala.

KH. Muhammad Luqman Haki

Posted on 11 Mei 2010, in Anak kampung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: