Bocah-bocah Itu Harus Menghidupi Keluarganya

KOMPAS.com- Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 20.00, tetapi Darma (7) dan Junaidi (9), masih berkeliaram di Stasiun Kereta Api Pondok Cina, Depok, Jawa Barat.

Bukan karena malas belajar, lagi bermain-main, apalagi hendak bepergian bersama orangtuanya. Mereka sedang bekerja mencari uang untuk menghidupi keluarganya dengan cara mengamen. Menggunakan botol bekas air minum kemasan yang diisi beras sebagai musik pengiring, mereka “menjual” suaranya yang jauh dari merdu itu kepada para calon penumpang kereta yang sudah tidak berjubel.

“Uangnya buat ibu. Buat beli baju sekolah. Buat makan, bantu-bantu orang tua,” kata Junaidi yang berkulit gelap itu.

Alasan serupa disampaikan Darma. “Ayah supir taksi, tapi sekarang gak kerja. Ibu juga gak kerja. Tinggal aku cari duit,” katanya polos.

Dalam perbincangan dengan Kompas.com di sela-sela kegiatannya mencari uang untuk keluarga, Darma dan Junaidi mengaku masih sekolah. Seperti anak-anak lainnya, setiap pagi mereka pergi ke sekolah. Bedanya, kalau anak-anak lain bisa belajar dengan tenang, di malam hari Darma dan Junaidi masih harus mengamen untuk menghidupi keluarganya.

Biasanya, mereka menyempatkan diri beristirahat sejenak sepulangnya dari sekolah. Juga mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ketika menjelang sore, keduanya mulai beranjak ke stasiun untuk mengamen.

Dalam sehari, mereka mengaku bisa mendapatkan uang Rp 20.000-Rp 50.000. “Hari ini Darma dapat lima puluh ribu,” kata Junaidi yang mengaku baru dapat Rp 20.000. Tak ada rasa iri ketika bicara soal penghasilan yang jauh berbeda itu.

“Dia udah dari pagian. Aku baru keluar, jadi baru dapet dua puluh ribu,” Junaidi memberi alasan. Maksudnya, Darma berangkat mengamen lebih awal dibandingkan dirinya.

Cita-cita sederhana

Darma dan Junaidi adalah potret anak-anak dari keluarga miskin di perkotaan Indonesia yang harus menjalani hidup dengan kerja keras di usianya yang masih sangat belia. Mereka tak pernah tahu dan juga tak hirau bahwa sebenarnya hak-haknya sebagai anak telah terlanggar.

Mereka hanya tahu bahwa apa yang dilakukan, bekerja sebagai pengamen atau apa pun istilahnya, adalah sebuah kewajiban untuk membantu orangtuanya. Mereka jelas tidak tahu apa itu konvensi hak-hak anak yang kemarin diperingati oleh Unicef.

Konvensi yang sudah berumur 20 tahun itu menyebutkan, seorang anak tidak boleh dipaksa bekerja seperti orang dewasa, dan seorang anak berhak diasuh orangtuanya dengan penuh kasih sayang hingga dewasa. Kalaupun oranggtua tidak mampu, maka orang tua anak harus dibantu agar anak terhindar dari bahaya.

Kenyataannya, 20 tahun setelah konvensi itu di Indonesia dan juga di belahan dunia lain jutaan anak masih harus bekerja keras membantu ekonomi keluarga. Mereka tak paham apa itu konvensi hak-hak anak.

Yang mereka tahu hanyalah menjalani hidup apa adanya. Junaidi dan Darma, misalnya, mengaku senang mengamen untuk membantu orang tuanya. “Saya mah senang bantu-bantu orang tua”, ujar Junaidi.

Adakah mereka juga punya cita-cita sebagai sebuah mimpi yang ingin digapai? Tentu saja punya, meski itu sangat sederhana. Junaidi, misalnya, ingin menjadi pedagang buah. “Pedagang buah, warung, ya begitu,” katanya. Maksudnya, ia ingin menjadi pedagang buah yang punya lapak.

Posted on 21 November 2009, in Anak kampung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: